Khutbah Jumat (Edisi 197) Tema : “5 DO’A JANGAN PERNAH DITINGGAL SELAMA RAMADHAN”
khutbah-jumat
Wafizs Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah Jumat (Edisi 197) Tema :
“5 DO’A JANGAN PERNAH
DITINGGAL SELAMA RAMADHAN”
Oleh : Nur Anwar
Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMI’ ASY-SYAKIRIN Thamrin City Jakarta
Jumat, 13 Maret 2026 M/22 Ramadhan 1447 H.
مَعَاشِرَ
الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Sebagai
umat Nabi Muhammad saw sangatlah beruntung, diberi usia singkat namun Allah swt
anugerahi pahala ibadah yang bisa jadi melebihi usianya Nabi Nuh AS. Setiap
kali bertemu bulan Ramadhan lalu bisa beribadah di malam lailatul qodar sudah
mendapatkan pahala خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣
“ lebih baik daripada 1000 bulan” yaitu setara dengan ibadah selama 83 tahun 4
bulan. Tidak berhenti disitu saja, di bulan Ramadhan saatnya menggapai waktu
mustajab untuk panjatkan segala doa selama 24 jam dan selama satu bulan penuh
itu semua waktu mustajab, kapan saja bordoa, mau di pagi hari, siang hari,
malam hari atau di sepertiga malam merupakan waktu-waktu terkabulkan segala
doa.
Sering-sering
minta dan berdoa selama berada dibulan Ramadhan karena Allah swt Maha Penerima
doa dan Allah itu sangat dekat dengan orang-orang yang berdoa. Firman Allah swt
وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌۗ
اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ
وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ١٨٦
“Apabila
hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku
dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa
kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku
agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al-Baqarah : 186).
Semua doa
yang dipinta itu pasti diterima Allah, pada ayat ini Allah swt tegaskan jika
ingin doanya diterima, kata Allah ‘فَلْيَسْتَجِيْبُوْا
لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ hendaklah
mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku’. Syaratnya, patuhi
segala perintah Allah, lakukan dengan sepenuh hati dan beriman kepadaNya dan
kudu sabar dengan proses diterimanya doa. Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda,
لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ، مَا لَمْ يَدْعُ
بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ، قِيلَ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ؟ قَالَ يَقُولُ: قَدْ دَعَوْتُ، وَقَدْ دَعَوْتُ،
فَلَمْ أَرَ يُسْتَجَابُ لِي، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ
“Doa hamba
akan terkabul selama tidak berdoa untuk kemaksiatan atau untuk memutus
silaturahim, dan selama ia tidak tergesa-gesa.” Para sahabat bertanya, “Wahai
Rasulullah, seperti apakah bentuk ketergesa-gesaan tersebut?” Nabi menjawab,
“Hamba tadi berkata: ‘Aku telah berdoa, sungguh aku telah berdoa, tetapi Allah
belum juga mengabulkan doa tersebut.” Ia merasa jenuh dan letih, lalu akhirnya,
ia meninggalkan doa.” (HR. Muslim).
مَعَاشِرَ
الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Rasulullah saw
di sepuluh terakhir Ramadhan itu lebih serius dan lebih semangat dalam
beribadah. Dari Aisyah ra, ia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِى
الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ
“Rasulullah
saw sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan
melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim).
Dikatakan
oleh istri tercinta beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,
كَانَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ
الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
“Apabila
Nabi saw memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan
sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan
malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Terkhusus lagi
selama di bulan Ramadhan ini, setidaknya ada 5 doa yang jangan sampai
ditinggalkan, terutama di sepuluh terakhir Ramadhan. Yaitu :
Pertama,
Doa Minta Maaf.
Minta ampun
dan minta maaflah kepada Allah swt seberapapun dosa yang pernah kita lakukan,
jangan pernah takut untuk minta dimaafkan oleh Allah karena Allah itu maha
Pemaaf. Doa ini diajarkan langsung oleh Nabi saw pada Aisyah ra agar meraih
maaf Allah di malam lailatul qodar.
وَعَنْ عائشة رضي الله عنها: قالت: «قلت: يا رسولَ الله
إِنْ وَافَقْتُ ليلةَ القَدْرِ ، ما أَدْعُو به؟ قال: قُولي: اللهم إنك عَفُوٌّ
كَرِيمٌ تُحِبُ الْعَفْوَ فاعْفُ عَنِّي» أخرجه الترمذي
Dari
sayyidah Aisyah ra, ia bercerita, ia pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah,
jika aku kedapatan menjumpai lailatul qadar, bagaimana doa yang harus kubaca?’
Rasulullah saw menjawab, ‘Bacalah, ‘اللهم إنك عَفُوٌّ
كَرِيمٌ تُحِبُ الْعَفْوَ فاعْفُ عَنِّي’ Ya Allah, Engkau
Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf (menghapus kesalahan),
karenanya maafkanlah aku (hapuslah dosa-dosaku).” (HR At-Tirmidzi).
Kedua, Do’a
Agar Berjumpa Lailatul Qodar.
Lailatul
qodar pasti datang tiap tahun di bulan Ramadhan hanya saja tidak semua orang
mendapatinya, karena itu mintalah sebanyak-banyaknya kepada Allah agar termasuk
yang diberikan bisa bertemu dengan lailatul qodar.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لنَا فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ وَ
بَلِّغْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَعِبَدَةً فِيْهَا
"Ya
Allah, berkahilah kami di bulan Ramadhan ini dan pertemukanlah kami dengan
Lailatul Qadar dan beribadah di malamnya."
اللَّهُمَّ بَلِّغْنَا لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَارْزُقْنَا
فِيهَا مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ
"Ya
Allah, sampaikan kami ke malam Lailatul Qadar dan berilah kami rezeki dengan
keutamaan serta rahmat-Mu".
Begitu juga
doa yang diajarkan Al-Habib Salim bin Abdulloh Asy-Syathiri (ulama besar Tarim,
Yaman) untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar:
اَللَّهُمَّ اِطَّلِعْ عَلَيْنَا لَيْلَةَ الْقَدَرِ
اَلْعَظِيْمَةَ الْقَدَرِ فِى الْيَقَظَةِ وَ الْمَنَامِ
"Ya Allah, tampakkanlah kepada kami Lailatul Qadar, yang agung kemuliaannya, baik dalam keadaan terjaga (sadar) maupun dalam tidur".
Ketiga, Doa
Dibebaskan Api Neraka.
Disepanjang
Ramadhan waktunya berdoa agar dibebaskan dari siksa api neraka terutama difase
sepuluh terakhir Ramadhan adalah عِتْقٌ مِنَ النَّارِ (dibebaskan
dari api neraka). Nabi saw bersabda,
إِنَّ لِلَّهِ عِنْدَ كُلِّ فِطْرٍ عُتَقَاءَ مِنَ
النَّارِ، وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ
"Sesungguhnya
Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari api neraka pada setiap saat
berbuka, dan itu terjadi setiap malam (di bulan Ramadhan)." (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Ahmad, Thabrani, dan
Al-Baihaqi).
Setiap
malam ketika berbuka puasa adalah moment untuk berdoa agar dibebaskan dari azab
neraka. Dan bukan hanya kita minta untuk diri sendiri namun juga minta
dibebaskan dari api neraka untuk kedua orang tua.
اللَّهُمَّ اعْتِقْ رِقَابَنَا وَرِقَابَ آبَائِنَا
وَأُمَّهَاتِنَا مِنَ النَّارِ
“Ya Allah,
bebaskan/merdekakanlah kami, ayah-ayah kami, dan ibu-ibu kami dari api
neraka".
Termasuk doa
ini dibaca setiap selesai sholat maghrib dan shubuh sebanyak 7 kali, tiap hari
baik di bulan Ramadhan ataupun di bulan-bulan lain
اَللّٰهُمَّ أَجِرْنِيْ مِنَ النَّارِ
“Ya Allah,
lindungilah/selamatkanlah aku dari api neraka".
Dalilnya
sabda Nabi saw hadits Imam Abu Dawud,
إِذَا انْصَرَفْتَ مِنْ صَلَاةِ الْمَغْرِبِ فَقُلْ
اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ النَّارِ سَبْعَ مَرَّاتٍ فَإِنَّكَ إِذَا قُلْتَ
ذَلِكَ ثُمَّ مِتَّ فِي لَيْلَتِكَ كُتِبَ لَكَ جِوَارٌ مِنْهَا وَإِذَا صَلَّيْتَ
الصُّبْحَ فَقُلْ كَذَلِكَ فَإِنَّكَ إِنْ مِتَّ فِي يَوْمِكَ كُتِبَ لَكَ جِوَارٌ
مِنْهَا
“Jika
engkau selesai dari shalat Maghrib maka bacalah اللَّهُمَّ
أَجِرْنِي مِنْ النَّارِ sebanyak tujuh kali. Sebab jika kamu baca
doa itu kemudian kamu meninggal pada malam itu juga, maka akan ditetapkan bahwa
kamu terbebas dari neraka. Jika kamu selesai dari shalat subuh maka bacalah doa
itu juga, sebab jika pada hari itu kamu meninggal, maka akan ditetapkan bahwa
kamu terbebas dari neraka.” (HR. Abu Daud).
Keempat,
Do’a Minta Diampuni Dosa.
Perbanyaklah
istighfar terutama saat sahur, sesuai dengan firman Allah swt.
وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ ١٨
“dan pada
akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah).” (QS. Adz-Dzariyat : 18).
Istigfar
yang paling singkat dan dapat dibaca berulangkali minimal 100 kali,
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ
“Astaghfirullah
(saya memohon ampunan kepada Allah yang Maha Agung)” (HR. Muslim).
Jika ingin lebih
bagus baca itighfar itu yang lebih panjang lagi,
أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا
هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْه
“Saya
memohon ampun kepada Allah,dzat yang tiada tuhan selain Dia yang Maha Hidup
lagi Maha Tegak. Aku bertaubat kepadaNya.”
(HR. Tirmidzi).
Atau kalau
pernah berbuat dosa besar dan ingin dimaafkan Allah swt seperti kisah Nabi Musa
AS saat menampar seseorang lalu orang itu meninggal dunia, maka Nabi Musa berdoa,
رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ١٦
“Dia (Musa)
berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka
ampunilah aku.” (QS. Al-Qashash : 16).
Dan doanya langsung
Allah jawab, Allah ampuni,
فَغَفَرَ لَهٗۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ١٦
“Dia
(Allah) lalu mengampuninya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. Al-Qashash : 16).
Atau pula pernah
berbuat salah meninggalkan keluarga, kurang perhatian pada keluarga, diuji
terus-menerus, pernah berbuat salah pada orang tua, ibu salah ke anak, istri salah
ke suami, sehingga ada ujian yang dialami tidak kunjung selesai, sakit tidak
pernah tuntas, dagang tak pernah laku, pekerjaan tidak dapat-dapat. Coba
silahkan cek, bisa jadi hubungan dengan orang tua yang kurang bagus, hubungan
sama keluarga kurang harmonis. Dzikirnya adalah kisah Nabi Yunus AS ketika dia
pergi dalam keadaan marah, lalu dia menyangka bahwa Allah swt tidak akan
menyulitkannya.
اللهم لَّآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ
كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَۚ ٨٧
“Tidak ada
tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang
zalim.” (QS. Al-Anbiya' : 87).
Doa Nabi
Yunus AS langsung Allah jawab,
فَاسْتَجَبْنَا لَهٗۙ وَنَجَّيْنٰهُ مِنَ الْغَمِّۗ
وَكَذٰلِكَ نُـنْجِى الْمُؤْمِنِيْنَ ٨٨
“Kami lalu
mengabulkan (doa)-nya dan Kami menyelamatkannya dari kedukaan. Demikianlah Kami
menyelamatkan orang-orang mukmin.” (QS. Al-Anbiya'
: 88).
Kata Allah
‘Kami selamatkan dia, Kami selesaikan masalahnya’, perhatikan diujung ayatnya
Allah swt berfirman : وَكَذٰلِكَ نُـنْجِى
الْمُؤْمِنِيْنَ (Demikianlah Kami
menyelamatkan orang-orang mukmin).
Umar bin
‘Abdul ‘Aziz pernah membuat tulisan yang ingin dikirimkan ke berbagai ke
negeri. Isi surat tersebut adalah memerintahkan mereka untuk menutup bulan
Ramadhan dengan istighfar dan sedekah yaitu zakat fitrah. Zakat fitrah
berfungsi untuk menyucikan orang yang berpuasa dari hal-hal yang sia-sia dan
dari kata-kata haram. Sedangkan istighfar berfungsi sebagai penambal atas
kekurangan yang dilakukan selama berpuasa yaitu ketika melakukan hal-hal yang
sia-sia dan perkara yang haram. Oleh karena itu, perbanyaklah ucapan seperti
yang diucapkan oleh Nabi Adam AS,
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا
وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya
Rabb kami, kami telah menganiaya diri
kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada
kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23).
Kelima,
Do’a Diterima Semua Amal.
Setiap amal
sholeh yang kita lakukan belum tahu diterima apa ditolak Allah, tugas kita
hanya mengerjakan dengan sebaik-baiknya karena menerima amal seorang hamba
adalah hak prerogatif Allah semata, Rasulullah saw saja setiap selesai sholat
shubuh beliau selalu berdoa agar amal ibdahnya diterima Allah swt,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا
طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
"Ya
Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang
halal, dan amal yang diterima." (HR. Ibnu
Majah dan Ahmad).
Begitu juga
Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail selalu berdoa agar amalnya diterima Allah swt,
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ
"Ya
Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar,
Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 127).
Tidak cukup
hanya dengan doa agar amal diterima, mereka juga meminta agar senantiasa
menjadi hamba yang tunduk dan mendapatkan petunjuk untuk beribadah dengan
benar:
رَبَّنَا وَٱجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن
ذُرِّيَّتِنَآ أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَآ
ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
“Ya Tuhan
kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada-Mu, dan
(jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada-Mu, dan
tunjukkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami, serta terimalah taubat kami.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 128).
Tutuplah
disetiap penghujung doa dengan doa ini agar semua ibadah kita diterima Allah
swt
اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا
وَصِيَامَنَا وَرُكُوْعَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّعَنَا
وَتَخَشُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَلله يَا رَبَّ
الْعَالَمِيْنَ
"Ya
Allah Tuhan kami, terimalah shalat kami, puasa kami, ruku' kami, sujud kami,
duduk kami, tadharru' kami (tunduk rendah diri), kekhusyukan kami, dan
pengabdian kami. Sempurnakanlah kekurangan kami, wahai Allah, wahai Tuhan
semesta alam".
بَارَكَ
اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بما فيه
مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ
تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ
هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
uanaunuan

.jpeg)









