Wafizs Al-Amin Center “Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah JUMAT 2026/1447 (edisi 199) Tema :
“MAAFKANLAH AKU” Oleh : Nur Anwar
Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan Asrama
Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs Al-Amin
Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMI’ AL-FALAH Pengasinan Kota, Bekasi. Jumat,
20 Maret 2026 M/30 Ramadhan 1447 H.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Dipenghujung Ramadhan doa yang terus diulang dan diulang
adalah doa minta dimaafkan Allah swt. Doa ini diajarkan langsung oleh Nabi saw
pada Aisyah ra agar meraih maaf Allah di malam lailatul qodar.
Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka
memberikan maaf (menghapus kesalahan), karenanya maafkanlah aku (hapuslah
dosa-dosaku).”
Sebanyak apapun dosa dan kesalahan yang pernah kita
lakukan, jangan pernah takut untuk minta dimaafkan Allah karena Allah itu maha
Pemaaf. Mengapa Nabi saw tidak mengajarkan kita agar berdoa kepada Allah untuk
diberikan badan sehat, panjang umur, hati yang itiqomah dalam beribadah, rezeki
yang halal dan barokah serta minta agar diwafatkan dalam keadaan husnul
khotimah, tapi yang kita pinta adalah maaf dari Allah swt.
Minta maaf itu terbagi kepada dua, baik di bulan Ramadhan
ataupun diluar bulan Ramadhan, yaitu : (1). Minta maaf kepada Allah swt (2). Minta
maaf kepada manusia, agar bersih dosa kita kepada Allah dan dosa kita kepada
manusia.
Pertama, Minta Maaf kepada Allah.
Sepanjang bulan Ramadhan yang kita pinta kepada Allah
adalah فاعْفُ عَنِّيmaafkanlah
aku ya Allah (hapuslah dosa-dosaku), فاعْفُ عَنِّيmaafkanlah aku ya Allah (hapuslah dosa-dosaku) dan فاعْفُ عَنِّيmaafkanlah aku ya Allah (hapuslah dosa-dosaku). Dengan wasilah bulan Ramadhan
dosa orang-orang yang berdoa akan Allah hapus dan bersihkan tanpa tersisa.
Para ulama memberikan dua makna rahasia العفوdalam doa yang diajarkan Nabi saw :
Pertama, العفو(maafnya Allah) itu lebih agung dan lebih dahsyat daripada ampunan (maghfiroh)
Allah : karena العفوitu,
(a). Menghapus dosa dan menghilangkan dosa hingga dihapus
bersih seakan tidak pernah ada.
(b). Tidak menghukum seorang hamba karenanya dan tidak
menyisakan bekas sedikit pun.
(c). Diantara para ulama memaknai العفوitu :
Az-Zajjaj : “Allah adalah Dzat yang memaafkan dosa dan
meninggalkan hukuman atasnya.”
Al-Khaththabi : “العفو
adalah memaafkan dosa tanpa membalasnya.”
Al-Halimi : “العفوadalah Allah swt
menggugurkan akibat dosa-dosa hamba-Nya. Bahkan bisa jadi Allah hapus karena
tobat, amal baik yang lebih besar, atau karena syafaat.”
Ibnul Qayyim : العفو
adalah bentuk kasih sayang yang sempurna. Allah bisa saja menghukum, tetapi
memilih untuk tidak melakukannya, bahkan menghapus dosa hingga tak terlihat.
Berbeda dengan kata المغفرة
(mengampuni) itu bermakna :
(1). السِّترُ(menutupi) dosa-dosa kita oleh Allah agar tidak
diperlihatkan dihadapan manusia baik saat di dunia ataupun saat di akhirat.
(2). الْوِقَايَةُ(perlindungan) Allah dari siksa api neraka.
Kalau المغفرة
hanya sekedar ditutupi namun catatan dosa-dosa kita masih tersimpan rapih
sedangkan العفوitu
diselamtkan dari api neraka dan dosa-dosa kita benar-benar dihapus bersih oleh Allah
swt dari buku catatan amal kita, karena sebab itulah Nabi saw mengajarkan kita
untuk selalu membaca doa ini sebanyak-sebanyaknya karena Nabi saw menginginkan
agar dosa umatnya tidak hanya sekedar ditutupi oleh Allah tetapi juga dihapus
bersih dari buku catatan amalnya seakan tidak pernah terjadi.
Maka dari itu kita sangatlah butuh kepada maghfiroh Allah
karena tanpa adanya maghfiroh Allah, dosa yang kita punya ini bukan hanya
memalukan tapi juga akan membahayakan kehidupan kita baik kehidupan dunia
maupun kehidupan akahirat.
Kedua, العفو(maafnya Allah) itu karena Nabi saw menginginkan agar umatnya hidup
bahagia di dunia dan akhirat, karena banyak dosa itulah yang menjadi sumber
masalah dalam kehidupan manusia di dunia, yang membuat manusia hidup tidak
bahagia, tidak tenang dan jika didalam diri kita banyak dosa maka hati akan menjadi
sempit, akan sulit untuk beribadah, rezeki tidak lancar, hati menjadi sempit, banyak
ujian musibah serta kemungkinan akan diwafatkan dalm kondisi su’ul khotimah.
Namun apabila dosa kita telah bersih maka hati akan menjadi lapang, mudah untuk
berbuat taat dalam melaksanakan ibadah, rezeki akan lancar, hidup pun akan
tenang, damai dan diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah.
Kata الْعَفْوَ
dalam Al-Qur’an sering digandengkan dengan nama Allah المغفرة.
Ini menunjukkan bahwa ampunan Allah swt mencakup penghapusan dosa dan juga
pengampunan siksaannya. Disebutkan dalam firmanNya,
إِنَّ اللَّهَ كَانَ
عَفُوًّا غَفُورًا
“Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa: 43).
فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ
عَفُوًّا قَدِيرًا
“Sesungguhnya Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa.” (QS. An-Nisa: 149)
وَإِنْ تَعْفُوا
وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا…
“Jika kalian memaafkan, membiarkan, dan mengampuni.” (QS. At-Taghabun: 14)
Bahkan Nabi saw sangat menganjurkan untuk selalu berdoa
dengan dua ayat terakhir suroh al-Baqoroh
“Dan maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah
kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al-Baqarah : 286).
Disebutkan dalam hadits dari Abu Mas’ud Al-Badri ra, Nabi
saw bersabda,
“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat
Al-Baqarah pada malam hari, maka ia akan diberi kecukupan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Para ulama menyebutkan bahwa siapa yang membaca dua ayat terakhir surat
Al-Baqarah ini, maka Allah akan memberikan kecukupan baginya untuk urusan dunia
dan akhiratnya, juga ia akan dijauhkan dari kejelekan.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Kedua, Minta Maaf kepada Manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak pernah
terlepas dari kesalahan dan kekhilafan. Tidak ada seorang pun yang sempurna.
Karena itu, Islam mengajarkan dua sikap mulia yang menjadi kunci kebersihan
hati dan keharmonisan sosial, yaitu meminta maaf dan memaafkan. Keduanya bukan
hanya etika kehidupan, tetapi ibadah yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi
Allah swt. memaafkan adalah membersihkan hati dari dendam, menghapus tuntutan,
dan melepaskan luka terutama sesama manusia. Al-Qur’an sangat memuji
orang-orang yang memaafkan.
“(yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu
lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan
orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang
yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali 'Imran : 134).
“Siapa yang memaafkan dan berdamai (kepada orang yang
berbuat jahat), maka pahalanya tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak
menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura : 40).
Langsung janji dari Allah menunjukkan bahwa memaafkan
memiliki keutamaan spiritual yang sangat tinggi dan menegaskan hubungan antara
memaafkan dan berharap ampunan Allah.
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah
kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (QS. An-Nur : 22).
Mudah memaafkan orang lain, maka Allah pun akan
menganugerahkan kemuliaan pada dirinya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw
bersabda,
“Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang
yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan
untuknya. Dan tidak ada orang yang rendah hati karena Allah, melainkan Allah
akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).
Sebelum ajal menjemput kita, maka selesaikanlah urusan
diantara sesama manusia, siapa yang memaafkan maka Allah akan muliakannya,
minta maaf itu mulia tapi memaafkan itu jauh lebih mulia dan lebih besar
pahalanya.
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله
Mumpung masih Allah beri kesempatan kita bertemu
dipenghujung bulan suci Ramadhan, jangan tinggalkan satu doa dari Nabi saw.
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan puasa ini yang
terakhir dalam hidupku. Jika Engkau menjadikan sebagai puasa terakhir,
jadikanlah aku sebagai orang yang Engkau sayangi dan jangan jadikan aku sebagai
orang yang Engkau murkai.”
Syeikh Ali Jumat berkata ; ‘Siapa yang membaca doa ini di
akhir Ramadhan maka akan mendapatkan dua kebaikan (1) Dia akan kembali
dipertemukan oleh Allah dengan bulan suci Ramadhan. (2) Jika dia tidak kembali
dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan maka Allah akan menjadikan Ramadhannya
saat ini sebagai Ramadhan yang penuh dengan rahmat dan ampunan Allah.
Wafizs Al-Amin Center “Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah IDUL FITRI 2026/1447 (edisi 198) Tema :
“IDUL FITRI : MEMAAFKAN LEBIH MULIA DAN LEBIH BESAR
PAHALANYA” Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan Asrama
Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs Al-Amin
Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid BESAR NURUL HUDA Kp. Gabus Pabrik, Desa
Sriamur, Tambun Utara, Bekasi. Sabtu, 21 Maret 2026 M/01 Syawwal 1447 H.
Dengan
terbenamnya matahari dipenghujung Ramadhan maka sempurnalah kita menjalankan
ibadah puasa sebulan penuh disertai melakukan semua amal sholeh yang pahalanya
disisi Allah saw amatlah sangat besar dan itulah bekal dalam perjalanan yang
tersisa di dunia ini dan bekal perjalanan yang abadi di akhirat yang tidak ada
kesudahannya. Itulah yang membuat kita gembira.
“Katakanlah
(Nabi Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itu, hendaklah mereka
bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus : 58).
مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله.
Segala puji
bagi Allah swt yang telah menyejukkan hati kita diatas aqidah yang benar,
segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan kita banyak nikmat sehingga
dengan nikmat tersebut kita dapat melakukan amal-amal sholeh, segala puji bagi
Allah swt yang telah menyampaikan usia kita sampai di akhir ujung Ramadhan,
dimana banyak sekali saudara-saudara kita yang ingin bertemu dengan bulan
Ramdhan tapi Allah swt mentakdirnya ia wafat sebelum datang bulan Ramadhan,
betapa banyak orang yang sudah berjumpa Ramadhan tetapi Allah swt memberikan ia
sakit sehingga ia tidak dapat berpuasa pada bulan Ramadhan.
Ramadhan
telah berlalu, rasa lelah yang dirasakan orang-orang qiyamullail sudah hilang
dan rasa letih yang dirasakan orang-orang yang rajin beribadah pun sudah
berlalu, yang tersisa adalah pahala yang kelak akan mereka dapatkan disisi
Allah swt,
Di hari
raya yang fitri ini ada 4 point yang sangat penting untuk kita jadikan
pembelajaran agar kesucian, kemenangan dan pahala besar yang selalu melekat
dalam sanubari kita sehingga Ramadhan lalu berhasil mempatri diri kita menjadi
orang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah swt. Diantaranya adalah :
Pertama,
Pahala Puasa dan Sholat.
Berbahagialah
bagi orang-orang yang puasa selama bulan Ramadhan, karena Rasulullah swt
bersabda, dari Abu Hurairah,
”Barangsiapa
yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah
maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”.
(HR. Bukhari dan Muslim). Dosa orang tersebut habis dihapus oleh Allah swt.
Namun celaka
dan dosa besar bagi orang-orang yang telah berani meninggalkan puasa, sengaja
tidak berpuasa di bulan Ramadhan, pelakunya wajib segera bertaubat nasuha, jika
tidak segera bertaubat, ancaman berat baginya.
“Dari Abu
Umamah berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: ‘Pada saat aku
tidur, aku bermimpi didatangi dua orang malaikat membawa pundakku. Kemudian
mereka membawaku, saat itu aku mendapati suatu kaum yang bergantungan tubuhnya,
dari mulutnya yang pecah keluar darah. Aku bertanya : ‘Siapa mereka?’ Ia
menjawab: ‘Mereka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum diperbolehkan
waktunya berbuka puasa’.” (HR. An-Nasa’i).
Dari Abu
Hurairah ra, “Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa tidak berpuasa satu hari
di bulan Ramadhan tanpa (udzur syar’i) keringanan yang Allâh berikan kepadanya,
maka tidak akan diterima sekalipun ia berpuasa selama satu tahun semuanya.”
(HR. Ahmad).
Berbahagialah
bagi orang-orang yang telah melakukan qiyam Ramadhan (sholat sunah taraweh) dan
melakukan sholat lima waktunya dengan sempurna selama bulan Ramadhan karena
Rasulullah swt bersabda,
“Barang
siapa melakukan qiyam Ramadhan (shalat tarawih) karena iman dan mencari pahala,
maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari Muslim). Dosa orang tersebut habis dihapus
oleh Allah swt.
Namun celaka
dan dosa besar bagi orang-orang yang telah berani meninggalkan sholat terutama
sholat 5 waktu dengan sengaja, berarti ia berani meninggalkan Allah swt, kalau
sudah berani meninggalkan Allah, jangan pernah berharap akan bisa masuk dalam
surgaNya, jangan pernah berharap dapat jaminan dari Allah bahkan orang tersebut
akan dijerumuskan masuk dalam neraka saqor yaitu neraka yang sangat panas dan
menghanguskan. Allah swt berfirman,
“Apakah
yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu
tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula)
memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama
dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari
pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” (QS. Al-Mudattsir: 42-47).
Orang-orang
yang sengaja berani meningglkan sholat, pelakunya dianggap tidak beragama
islam, Umar bin al-Khattab mengatakan,
“Menurutku,
perkara yang paling penting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa yang menjaga
shalatnya, maka ia berarti menjaga agamanya. Barangsiapa yang menyia-nyiakan
shalat, berarti dalam hal lainnya ia lebih menyia-nyiakan lagi. Tidak ada
bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat. ” (Ash Shalah, hal. 12).
“Bagi orang
yang berpuasa akan merasakan dua kebahagiaan: (1) kebahagiaan ketika berbuka,
dan (2) kebahagiaan ketika berjumpa dengan Allah.” (HR. Muslim).
(فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ) Kegembiraan fisik
dan spiritual karena hari ini tidak berpuasa dapat menikmati makanan dan minuman
setelah menahan lapar, serta rasa syukur karena berhasil menyelesaikan ibadah
puasa satu bulan penuh.
(وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ)
Kebahagiaan saat bertemu Tuhannya dan itu
kegembiraan tertinggi di akhirat kelak
adalah ketika mendapatkan pahala berlipat, ridha Allah, dan balasan surga atas
puasa yang telah dilakukannya.
Maka hari
ini adalah hari bergembira bagi kaum muslimin dan merupakan hak bagi seorang
muslim untuk bergembira pada hari ini, karenanya, bersenang-senanglah tetapi
ingat, kesenangan itu ada batasnya tidak boleh melampoi syariat yang sudah
ditetapkan Allah swt.
Hari raya
umat islam berbeda dengan hari raya umat lain, hari raya umat islam itu dibuka
dengan alunan gema takbir kepada Allah swt, sholat, sujud dan ruku karena itu
merupakan keagungan agam islam.
Anas
berkata, Rasulullah saw ketika tiba di Madinah, sedangkan penduduknya memiliki
dua hari khusus untuk permainan, maka beliau bersabda: "Apakah maksud
dari dua hari ini?" mereka menjawab: "Kami biasa mengadakan permainan
pada dua hari tersebut semasa masih Jahiliyyah." Maka Rasulullah saw
bersabda : "Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih
baik dari kedua hari tersebut, yaitu hari raya idul Adlha dan hari raya Idul
Fithri." (HR. Sunan Abu Daud).
Di hari
bahagia ini silahkan berbagi kebahagiaan bersama keluarga, saling memberi
hadiah, buat aneka kue dan makanan dan berkunjung antar sanak keluarga saudara
yang kita inginkan karena sesungguhnya hari ini adalah hari kebahagiaan baig
seluruh kaum muslimin, dan Allah sempurnakan kebahagiaan tersebut dengan
diharamkan berpuasa pada hari ini.
Pada hari
ini ada sebagian orang yang kebahagiaannya tidak sempurna disebabkan karena
tidak saling tegur sapa kepada saudaranya, sedang bermusuhan dengan saudaranya
bahkan terhadap orang tuanya sendiri pun marah menahun. Maka untuk orang
tersebut ada pesan khusus dari Rasulullah saw.
Dari Ibnu
Abbas, dari Rasulullah saw bersabda: "Tiga golongan yang shalatnya
tidak akan di angkat (diterima) meski satu jengkal dari kepalanya : (1). Seorang
laki-laki yang mengimami suatu kaum sementara mereka tidak menyukainya, (2). Seorang
istri yang menghabiskan malamnya sementara suaminya murka kepadanya, dan (3). Dua
bersaudara yang saling bermusuhan (memutuskan tali persaudaraan)."
(HR. Ibnu Majah).
Maka orang
tersebut tidak akan mendapatkan ampunan Allah swt, Nabi saw bersabda,
"Pintu-pintu
Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka Allah akan mengampuni setiap hamba
yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seseorang yang antara
dia dan saudaranya terdapat permusuhan. Maka dikatakan : 'Tundalah (ampunan)
bagi kedua orang ini sampai mereka berdamai, tundalah (ampunan) bagi kedua
orang ini sampai mereka berdamai, tundalah (ampunan) bagi kedua orang ini
sampai mereka berdamai'." (HR.
Muslim).
Jika kita
ingin mendapatkan ampunan Allah swt seluas luasnya maka di hari fitri ini
kesempatan emas untuk saling memaafkan, kesempatan untuk saling berkunjung dan
meminta maaf kepada saudara-saudara kita. Jika sebaliknya, tidak mau minta
maaf, tidak saling meridhoi bahkan nyaris memutuskan tali salaturrahim, maka
kata Nabi saw “berdosa bagi orang yang memutuskan tali silaturahim dan tidak
akan merasakan indahnya surga.
“orang yng
memutuskan silaturrahim dengan kerabatnya dilaknat, dimurkai Allah, diusir dari
rahmat Allah walaupun matinya ditengah-tengah ka’bah” (HR. Imam Al Qudo’I).
Siapa yang
meninggalkan rasa dendam dan mudah memaafkan orang lain, maka Allah pun akan
menganugerahkan kemuliaan pada dirinya. Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw
bersabda,
“Tidaklah
Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin
memuliakan dirinya.” (HR. Muslim).
Maka tidak
ada alasan bagi kita untuk memboikot atau memutuskan saudara kita, jangan
pernah malu meski kita lebih tua, buang itu jauh-jauh, ingat pesan Nabi saw,
siapa yang memafkan maka Allah akan muliakan dia, minta maaf itu mulia tapi
memaafkan itu jauh lebih mulia dan lebih besar pahalanya.
“Orang-orang
yang menghubungkan apa yang Allah perintahkan untuk disambungkan (seperti
silaturahmi), takut kepada Tuhannya, dan takut (pula) pada hisab yang buruk.” (QS. Ar-Ra'd : 21).
Diantara
ciri-ciri penduduk surga adalah mereka yang menyambung tali silaturrahmi,
diujung ayat ini allah tegaskan
“(Yaitu)
surga-surga ‘Adn. Mereka memasukinya bersama orang saleh dari leluhur,
pasangan-pasangan, dan keturunan-keturunan mereka, sedangkan malaikat-malaikat
masuk ke tempat mereka dari semua pintu.” (QS
Ar-Ra'd : 23).
Maka
bagaimana mungkin kita akan masuk bersama ibu, kaka, adik dan suadara-saudara
kita kedalam surga sementara di dunia kita tidak berbaikan dan tidak akur,
bagaimana mungkin kita mendapatkan pahala surga yang dijanjikan Allah swt.
“(Malaikat
berkata,) “Salāmun‘alaikum (semoga keselamatan tercurah kepadamu) karena
kesabaranmu.” (Itulah) sebaik-baiknya tempat kesudahan (surga).” (QS. Ar-Ra'd : 24).
Seakan-akan
di ayat ini Allah mengatakan bahwa orang yang menyambung tali silaturrahim
butuh kesabaran, dan ini benar, disbutkan dalam sebuah hadist, ada seorang
laki-laki datang kepada Nabi saw dan dia berkata
Dari Abu
Hurairah ra. bahwasanya seorang laki-laki berkata, "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku memiliki kaum kerabat, aku menyambung hubungan dengan mereka
namun mereka memutuskan hubungan denganku. Aku berbuat baik kepada mereka,
namun mereka berbuat jahat kepadaku. Aku bersikap santun (lemah lembut) kepada
mereka, namun mereka bersikap bodoh (kasar) kepadaku." Maka Nabi saw
bersabda: "Jika engkau benar seperti apa yang engkau katakan, maka
seolah-olah engkau menyuapi mereka abu panas (yakni mereka mendapat dosa
besar), dan pertolongan Allah akan senantiasa bersamamu melawan mereka selama
engkau tetap melakukan hal tersebut (berbuat baik)." (HR. Muslim).
Jika kita
benar-benar ingin mendapatkan keutamaan ini, jika kita ingin ditolong Allah swt
maka sambunglah tali silaturrahim diantara kita. Janji Rasulullah saw tuk orang
yang senang dengan tali silaturrahim,
"Barangsiapa yang ingin dilapangkan
rezekinya dan dipanjangkan umurnya (ditangguhkan ajalnya), maka hendaklah ia
menyambung silaturahim". (HR. Bukhari & Muslim).
Cari rezeki
dengan silaturrahim, panjangkan usia dengan silaturrahim maka hari ini adalah
hari yang sangat tepat untuk menyambung tali yang dahulunya pernah putus lama
hanya gara-gara urusan dunia, sementara Allah katakan itu,
Katakanlah,
“Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik
bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.” (QS. An-Nisa' : 77).
Dunia itu
hanya perhiasan, hanya kenikmatan sesaat, sangat sedikit, dunia ini akan kita
tinggalkan, tidak mungkin kita akan hidup lama di dunia ini, kita akan hidup di
akhirat yang abadi dalam surgaNya Allah swt.
Keempat,
Nasehat Nabi saw Khusus untuk Kaum Wanita.
Pada hari
ini Rasulullah saw mengkhususkan nasehat kepada kaum perempuan, betapa Nabi saw
menunjukkan sangat sayang kepada kaum perempuan sampai-sampai mengkhususkan
nasehat ini. Tatkala Rasulullah saw selesai khutbah id, beliau mendatangi para
wanita sembari memberikan nasihat,
“Wahai kaum
wanita, bersedekahlah. Sungguh aku melihat kalian adalah yang paling banyak
akan menjadi penghuni neraka”. Mereka bertanya: ‘Mengapa begitu, wahai
Rasulullah?’. Beliau menjawab, ‘Kalian banyak melaknat dan mengingkari
pemberian (kebaikan suami). Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal
dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita’.” (HR. Bukhari).
Karena itu
bagi para perempuan :
(1). Hari
ini banyaklah bersedekah untuk menghapus dosa-dosa dan menjauhkan dari siksa
api neraka.
(2).
Bahagiakanlah hati suami setiap hari terkhusus di hari ini, banyak berbuat
baiklah kepada suami sebagimana dahulu ketika gadis berbakti kepada orang tua
mendapatkan pahala yang sangat besar begitu juga berbakti kepada suamiakan memperoleh pahala besar pula, pintu
surga pun terbuka lebar-lebar untuknya. Rasulullah saw bersabda,
“Jika
seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di
bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina)
dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki
sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau
suka.” (HR. Ibnu Hibban, no. 4163 dan Ath-Thabrani
dalam Al-Mu’jam Al-Awsath, 4715).
Betapa
besarnya hak suami dalam rumah tangga, sehingga jika sujud kepada makhluk
dibolehkan, maka suamilah yang paling berhak mendapatkannya. Nabi saw bersabda,
“Seandainya
aku memerintahkan seseorang untuk sujud pada yang lain, maka tentu aku akan
memerintah para wanita untuk sujud pada suaminya karena Allah telah menjadikan
begitu besarnya hak suami yang menjadi kewajiban istri” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad).
Mari
niatkan mulai saat ini untuk menurunkan ego kita, membelenggu hawa nafsu kita
untuk minta maaf karena orang yang meminta maaf itu jauh lebih mulia daripada
orang yang didatangin, jangan malu meminta maaf, mulailah dengan komunikasi wa,
telepon untuk minta maaf, jangan malu karena engkau lebih mulia, engkau mampu
mengendalikan hawa nafsumu dan egomu.
Bahkan
na’udzubillah kalau sampai orang itu tidak memberi maaf, Imam Syafi’i
mengatakan “Kalau udah ada orang dimintain maaf namun tidak mau memberi maaf
maka orang itu hakekatnya adalah setan yang dilaknat Allah swt” karena kotor
dan sombong hatinya. Sempurnakan nilai Ramadhan kita kali ini
agar kita termasuk orang-orang yang minal faizin wal maqbulin.
”Selamat
Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M Mohon Maaf Lahir Batin.”