Khutbah IDUL FITRI 2025/1446 (edisi 175) Tema : “IDUL FITRI : MERAJUT TALI SILATURRAHIM YANG TERPUTUS”
khutbah-idulfitri
Wafizs
Al-Amin Center
“Berbagi Cahaya Diatas Cahaya”
Khutbah IDUL FITRI 2025/1446 (edisi 175) Tema :
“IDUL
FITRI : MERAJUT TALI SILATURRAHIM YANG TERPUTUS”
Oleh : Nur Anwar Amin (adjie nung)
Alumni Universitas Al-Azhar Mesir, Alumni Pondok Pesantren Attaqwa KH.Noer Alie
Bekasi dan Ketua Yayasan Wafizs Al-Amin Center Bekasi. Mohon Kirim
Donasi Anda : Zakat, Infaq, sedekah & Wakaf untuk Pembangunan
Asrama Yatim & Dhuafa ke No. Rek.7117.8248.23 (BSI) a.n. Yayasan Wafizs
Al-Amin Center. Donasi Anda sangat membantu meringankan beban mereka.
WA : +628161191890
klik aja adjie nung di Link YouTube, Instagram & Facebook
Khutbah ini disampaikan di Masjid JAMl’ AL-FALAH Pondok Ungun Permai Bahagia,
Babelan Bekasi. Senin, 31 Maret 2025 M/01 Syawwal 1446 H.
اَللهُ
أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ
أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ
عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ
اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ
الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ
ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ
الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ
الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ
النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ
الْمُتَّقُوْنَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أَعُوذُ
بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون
مَعَاشِرَ
الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ الله. اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ
Marilah kita bersyukur
kepada Allah swt atas nikmat islam dan iman serta kenikmatan sehat wal afiyat
hingga mampu telah melaksanakan kewajiban puasa di bulan Ramadhan dengan
sempurna dan pada hari ini akhirnya Allah beri kesempatan kita berjumpa di hari
idul fitri semoga semua amal ibadah kita diterima Allah swt dan hari ini juga menjadi
hari kemenangan untuk kita semua di hari yang sangat diagungkan Allah swt dan Nabi
Muhammad saw sebagai hadiah termahal dari Allah swt untuk hambaNya yang taat
menjalankan perintahNya selama satu bulan penuh.
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ
Setelah satu bulan
penuh kita bermujahadah, bersungguh-sungguh, berusaha keras mengeratkan
hubungan kita dengan Allah swt (حبل من الله), maka
sampailah saatnya kini kita memperbaiki hubungan dengan diantara kita (حبل من الناس), karena
hakekat idul fitri adalah ridho Allah, kita mendapatkan keridhoan dan kerelaan Allah
swt, lebaran itu bukan hanya dengan makanan serba enak ataupun baju-baju yang
serba baru akan tetapi hahekat lebaran adalah apabila hari ini Allah kabulkan semua
amal ibadah kita dan Allah ridho kepada kita semua.
Imam Ali karromallahuwajha
memberi makna idul fitri yang berbeda dengan kita, ketika ditanya kapan ied,
kapan ied beliau berkata,
فَقَالَ الإِمَامُ
عَلِيٌّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اِعْلَمْ يَا أَخِي، أَنَّ العِيدَ لِمَنْ قَبِلَ
اللهُ صَوْمَهُ، وَغَفَرَ ذَنْبَهُ، ثُمَّ قَالَ لَهُ: اليَوْمُ لَنَا عِيدٌ،
وَغَدًا لَنَا عِيدٌ، وَكُلُّ يَوْمٍ لَا نَعْصِي اللهَ فِيهِ فَهُوَ عِنْدَنَا
عِيدٌ
Ketahuilah wahai
saudaraku.. : “Sesungguhnya hari raya itu bagi orang yang diterima puasanya
dan diampuni dosanya oleh Allah swt. Hari ini hari raya bagi kami, esok juga hari
raya bagi kami dan setiap hari saat kami tidak bermaksiat kepada Allah swt dihari
tersebut maka itu adalah hari raya bagi kami.”
Sebuah ungkapan
menarik dari Abu Yazid,
لَيْسَ اْلعِيْدُ
لِمَنْ لَبِسَ اْلجَدِيْدَ, وَلاَ لِمَنْ اَكَلَ اْلقَدِيْدَ, وَلَكِنَّ اْلعِيْدُ
لِمَنْ طَاعَتُهُ تَزِيْدُ, وَخَافَ اْلوَعِيْدَ
“Hari raya itu
bukanlah orang berbaju baru dan bukan orang yang makan dendeng yang enak,
tetapi orang yang beridul fitri adalah bagi siapa saja yang bertambah
ketaatannya dan bertambah rasa takutnya”.
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ
Di hari raya ini ada 2
hadits yang sangat penting untuk kita jadikan pembelajaran agar kesucian dan
kemenangan selalu melekat dalam sanubari kita, adalah :
Pertama, Beriman Kunci
Utama Masuk Surga. Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda,
وَعَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ “لاَ تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا
“Kalian tidak akan
masuk surga sampai kalian beriman”.
Iman adalah kepercayaan
atas wujud adanya Allah swt merupakan kunci kita menggapai ridho dan surga,
tidak akan masuk surga tanpa iman. Begitu juga tidak disebut beriman yang sempurna
sampai betul-betul saling mencintai antar sesama.
وَلا تُؤْمِنُوا حَتىَّ
تحَابُّوا،
“Dan kalian tidak
disebut beriman sampai kalian saling mencintai.”
Cinta saudara, cinta kerabat,
cinta segenap umat baginda Rasulullah saw adalah bentuk dari kesempurnaan
keimanan kita kepada Allah swt dan itulah syarat kita memasuki surga,
Rasulullah saw bersabda,
أَوَلاَ أَدُلُّكُمْ
عَلَى شَيْئٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحاَبَبْتُمْ؟
“Maukah aku
tunjukkan kepada kalian sesuatu yang apabila kalian melakukannya, kalian pasti
saling mencintai?” lantas Nabi bersanda,
أَفْشُوا السَّلاَم
بَيْنَكُم” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Sebarkanlah salam (kedamaian dan kasih sayang) di antara kalian.” (HR. Muslim).
Itu adalah kunci agar saling
mencintai diantara kita, Nabi saw tidak menyuruh sebarkan berita hoax,
kebencian, permusuhan dan berita yang tidak benar jika ingin masuk surga.
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ
Dimoment hari raya ini
kita mesti menggapai ridho Allah, melalu meyebarkan kebaikan bukan menyebarkan
fitnah dan namimah (adu domba), seperti saat ini umat islam rentan
sekali untuk mudah di adu domba, maka Nabi saw mengatakan لاَ تَدْخُلُوا
الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا “tidak akan pernah engkau masuk surga kecuali beriman”, tidak akan
beriman kecuali engkau saling mencintai dan engkau tidak akan saling mencintai
sampai engkau tebarkan kebaikan, tebarkan rasa aman, kedamain dan keselamatan jangan
tebarkan provokasi, kebohongan kesesatan dan berita yang tidak benar, bukankah
Rasulullah saw berpesan,
كَفَى بِالْمَرْءِ
إِثْمًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seorang
(dikatakan) berdosa jika dia menyampaikan seluruh apa yang dia dengar.” (HR. Muslim).
كَفَى بِالْمَرْءِ
كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seorang
(dikatakan) berdusta jika dia menyampaikan seluruh apa yang dia dengar.” (HR. Muslim).
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ
Kedua, Silaturrahim
Kunci Masuk Surga. Dari Abdullah bin Salam ra berkata, Rasulullah saw
bersabda,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ،
أَفْشُوا السَّلَامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ، وَصَلُّوا
بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ، تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ
“Ketika Nabi Muhammad saw
tiba di kota Madinah, orang-orang berduyun-duyun mendatangi beliau. Mereka
berkata, ‘Rasul telah tiba!’. Akupun mengikuti kerumunan mereka untuk turut
melihat. Ketika nampak wajah beliau, aku langsung tahu bahwa wajah beliau
bukanlah wajah seorang pendusta. Hal pertama yang aku dengar dari beliau adalah
“Wahai sekalian manusia! Sebarkanlah salam, berikanlah makanan, jalin
silaturahim, dan salatlah pada malam hari ketika orang-orang tengah tertidur.
Maka kalian semua akan masuk surga dengan selamat.” (HR. Ahmad,
Turmudzi, dan Al-Hakim).
Hari ini adalah hari yang
sangat tepat untuk kita saling memberi maaf satu dengan yang lainnya khususnya
pada saudara dan kerabat kita, tidak ada kebaikan bagi seseorang yang memutus
silaturrahim, maka dari itu, jika ada renggang hubungan antara kita dengan
kerabat, di hari inilah saatnya kita memberi maaf dan meminta maaf, dalam al-quran
Allah swt tidak ada satu ayatpun yang memerintahkan kita minta maaf tapi semua
ayat mengatakan ‘berikan maaf’.
فَمَنْ عَفَا
وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَ ٤٠
“Siapa yang memaafkan
dan berbuat baik (damai) (kepada orang yang berbuat jahat), maka pahalanya dari
Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. Asy-Syura : 40).
وَالْعَافِيْنَ عَنِ
النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ ١٣٤
“dan orang-orang yang
memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat
kebaikan.” (QS. Ali 'Imran : 134).
Selalu yang dipuji Allah
adalah yang memaafkan. Dari itu mari saatnya di hari fitri ini kita untuk
menjalin silaturrahim antar kerabat kita khususnya segenap hamba Allah swt,
Rasulullah saw bersabda
لَيْسَ الْوَاصِلُ
بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا
“Bukanlah orang yang
menyambung shilaturrahim (dengan sempurna) adalah (karena) membalas (kebaikan
keluarga/kerabatnya), akan tetapi orang yang menyambung shilaturrahim adalah
orang yang jika diputuskan hubungan shilaturrahim dengannya maka dia (justru) menyambungnya.” (HR. Bukhori).
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ
Syekh Qosim ‘Asyur
dalam kitab Jawahir Qur’aniyah, halaman 362. Menceritakan bahwa Sayyidina Ali
Zainal Abidin bin Husen bin Ali bin Abi Tholib ibunya fathimatuzzahroh binti Rasulullah
saw, suatu ketika beliau memberi wasiat kapad anak-anaknya sambil berkata,
“Hati-hati wahai anak-anakku,
jangan sekali-sekali engkau berteman dengan orang-orang putus silasiturrahim,
(beliau tidak bisa membayangkan dosa orang yang putus silaturrahimnya) namun
beliau wasiatkan agar kita tidak berteman dengan orang yang memutuskan silaturrahim,
Imam Ali berkata,
فَإِنِّيْ وَجَدْتُهُ مَلْعُونًا
فِي الْقُرْآنِ فِي ثَلَاثَةِ مَوَاضِعَ
“Karena aku dapati ada
3 ayat dalam al-quran yang jelas-jelas melaknat orang yang memutuskan
silaturrahim”.
فَهَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ
تَوَلَّيْتُمْ اَنْ تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَتُقَطِّعُوْٓا اَرْحَامَكُمْ ٢٢
“Apakah seandainya
berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan
kekeluargaanmu?.” (QS. Muhammad : 22).
اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ
لَعَنَهُمُ اللّٰهُ فَاَصَمَّهُمْ وَاَعْمٰٓى اَبْصَارَهُمْ ٢٣
“Mereka itulah
orang-orang yang dilaknat oleh Allah. Lalu, Dia menulikan (pendengaran) dan
membutakan penglihatan mereka.” (QS. Muhammad : 23).
الَّذِيْنَ
يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖۖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ
اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ اُولٰۤىِٕكَ
هُمُ الْخٰسِرُوْنَ ٢٧
“(yaitu) orang-orang
yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, memutuskan
apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan (silaturahmi), dan berbuat
kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah : 27).
وَالَّذِيْنَ
يَنْقُضُوْنَ عَهْدَ اللّٰهِ مِنْ ۢ بَعْدِ مِيْثَاقِهٖ وَيَقْطَعُوْنَ مَآ
اَمَرَ اللّٰهُ بِهٖٓ اَنْ يُّوْصَلَ وَيُفْسِدُوْنَ فِى الْاَرْضِۙ اُولٰۤىِٕكَ
لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوْۤءُ الدَّارِ ٢٥
“Orang-orang yang
melanggar perjanjian (dengan) Allah setelah diteguhkan, memutuskan apa yang
diperintahkan Allah untuk disambungkan (seperti silaturahmi), dan berbuat
kerusakan di bumi; mereka itulah orang-orang yang mendapat laknat dan bagi
mereka tempat kediaman yang buruk (Jahanam).” (QS. Ar-Ra'd : 25).
Maka itu Rasulullah
saw senantiasa memerintahkan kepada kita untuk jangan sampai kita memutuskan
silaturrahim, hari inilah yang tepat kiranya kita sambung kembali silaturrahim yang
telah terputus diantara kita. Bahkan Nabi saw memberikan keuntungan kepada
orang-orang yang senantiasa menjalin silaturrahim,
مَنْ سَرَّهُ أَنْ
يُمَدَّ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَيُوَسَّعَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُدْفَعَ عَنْهُ
مِيتَةُ السُّوءِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barangsiapa yg ingin
umurnya panjang dan berkah, rezekinya luas, meninggal dunia husnul khotimah,
maka hendaklah bertqwalah kepad Allah dan sambunglah silaturrahim” (HR. al-Hakim).
Mafhum mukholafahnya
adalah barangsiapa yang ingin umurnya pendek alias cepet mati atau umurnya tidak
berkah, barangsiapa yang ingin rezekinya sempit, tidak berkah dan ingin mati
su’ul khotimah maka putuskanlah silaturrahmi diantara kalian.
Maka dari itu benar-benar
kita renungkan akibat putus dari silaturrahim, kalau hanya gara-gara urusan
dunia bagi-bagi warisan, berapa milyar dibanding dengan laknat Allah yang
sangat berat, berapa untungnya warisan dibanding murkanya Allah. Jelas-jelas
Nabi saw mengatakan berdosa bagi orang yang memutuskan tali silaturahim tidak
akan merasakan indahnya surga.
عَنْ جُبَيْرِ بْنِ
مُطْعِمٍ قَالَ إِنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
قَاطِعٌ رَحْمٍ. رواه البخاري ، ومسلم ، وأبو داود ، الترمذي
Dari Jubair bin
Muth’im ra. dari Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak masuk surga pemutus
silaturrahim.” (Bukhari Muslim).
إِنَّ الرَّحْمَةَ لَا
تَنْزِلُ عَلَى قَوْمٍ فِيهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ
“Rahmat Allah tidak
akan turun pada sekelompok kaum yang memutuskan silaturrahim”. Bahkan lebih
seram lagi ancaman Nabi saw,
قَاطِعُ الرَّحِمِ
مَلْعُونٌ وَلَوْ مَاتَ فِي جَوْفِ الكَعْبَةِ
“orang yng memutuskan
silaturrahim dengan kerabatnya dilaknat, dimurkai Allah, diusir dari rahmat Allah
walaupun matinya ditengah-tengah ka’bah” (HR. Imam Al Qudo’I).
Jangankan mati di
masjid atau majlis taklim sekalipun mati ditengah ka’bah namun memutuskan silaturrahim maka tetap dimurkai dan dilaknat Allah
swt, dan kita tidak ada yang tahu matinya bagaimana, seperti apa dan dimana?
Apakah masih berani untuk memutuskan silaturrahim dengan sanak kerabat.?
اَللهُ أَكْبَرُ ×٣، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ
الْحَمْدُ
Mari niatkan mulai saat
ini untuk menurunkan ego kita, menginjak hawa nafsu kita untuk meminta maaf karena
orang yang meminnta maaf itu jauh lebih mulia daripada orang yang didatangin, jangan
malu meminta maaf, mulailah dengan komunikasi wa, telepon untuk minta maaf, jangan
malu karena engkau lebih mulia, engkau mampu mengendalikan hawa nafsumu dan
egomu.
Bahkan na’udzubillah kalau
sampai orang itu tidak memberi maaf, Imam Syafi’i mengatakan “Kalau udah ada orang
dimintain maaf namun tidak mau memberi maaf maka orang itu hakekatnya adalah
setan yang dilaknat Allah swt” karena kotor dan sombong hatinya. Sempurnakan
nilai Ramadhan kita kali ini agar kita
termasuk orang-orang yang minal faizin wal maqbulin.
”Selamat Hari Raya Idul Fitri 1446
H/2025 M Mohon Maaf Lahir Batin.”
مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ فِيْ كُلِّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِيْ زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ وَاَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُ لِيْ وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْم
KHUTBAH
KEDUA
الله
أكبر – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ – الله أَكْبَرُ –الله أكبر – الله أكبر –
الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً
وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ
وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله وَلاَ
نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ
المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.
اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ
إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ.
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ
الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ
مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ:
فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ.
أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ.
وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ. وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله
أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ
المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى مخبرا وامرا إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ
وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى
آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وأرض اللهم على أربعة الخلفاء الراشدين سيدنا ابي
بكر وعمر وعثمان وعلي وعلى بقية الصحابة
التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى
يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ
الراَحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْيآءِ
مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ.
اللَّهُمَّ انْصُرْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ
سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ
انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ
بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ
وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ.
هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ
وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ
المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ
بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ
العَالمَيِنَ
رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِاْلحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ اْلفَاتِحِيْنَ. رَبَّنَا أَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهىَ عَنِ اْلفَحْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
uanuan